Lagi sibuk-sibuknya buka kutipan
di balik linimasa. Ketawa, tersenyum dan senang melihatnya. Masa-masa itu. Masa-masa
dimana aku belum tau apa yang kau perjuangnkan. Masa-masa dimana aku hanya tau
itu pertemanan dan masa-masa aku polosnya dan kau di bully oleh satu sekolah. Sayang
itu hanya bertahan sampai sini, sampai kepulangan kedua kalinya aku ke kota
kita. Aku tak tahan lagi menahannya, menahan kebertahuanku, menahan egoku dan
menahan kau untuk tak melihat yang lain.
Aku akui aku nyaman ada di
dekatmu, nyaman bersamamu dan nyaman saat senja datang denganmu. Nyaman ini aku
beri nama “PERSAHABATAN”. Karena nyamanku adalah saat kamu bersayap menyapku
saat aku jatuh dan enggan merapat. Karena nyamanku saat semua orang tidak percaya
dan kau percaya, karena nyamanku adalah kamu dengan plang SAHABAT TANPA BATAS.
Namun aku keliru dengan nyaman
ku. Karena nyamanku bukanlah nyamanmu. Kau ingin lebih dan aku sudah di batas
ambag maksimal. Salahkah ? salah menurutku, karena sesungguhnya tak ada cinta
yang bertepuk sebelah tangan. Apabila tangan satu ingin bertepuk, pasti ada
tangan satu yang lain yang menerimanya.
Yogyakarta, 8/11/14
Setelah meyaksikan lini dibalik linimasa.