Jumat, 07 November 2014

Lini Tersembunyi.

Lagi sibuk-sibuknya buka kutipan di balik linimasa. Ketawa, tersenyum dan senang melihatnya. Masa-masa itu. Masa-masa dimana aku belum tau apa yang kau perjuangnkan. Masa-masa dimana aku hanya tau itu pertemanan dan masa-masa aku polosnya dan kau di bully oleh satu sekolah. Sayang itu hanya bertahan sampai sini, sampai kepulangan kedua kalinya aku ke kota kita. Aku tak tahan lagi menahannya, menahan kebertahuanku, menahan egoku dan menahan kau untuk tak melihat yang lain.

Aku akui aku nyaman ada di dekatmu, nyaman bersamamu dan nyaman saat senja datang denganmu. Nyaman ini aku beri nama “PERSAHABATAN”. Karena nyamanku adalah saat kamu bersayap menyapku saat aku jatuh dan enggan merapat. Karena nyamanku saat semua orang tidak percaya dan kau percaya, karena nyamanku adalah kamu dengan plang SAHABAT TANPA BATAS.

Namun aku keliru dengan nyaman ku. Karena nyamanku bukanlah nyamanmu. Kau ingin lebih dan aku sudah di batas ambag maksimal. Salahkah ? salah menurutku, karena sesungguhnya tak ada cinta yang bertepuk sebelah tangan. Apabila tangan satu ingin bertepuk, pasti ada tangan satu yang lain yang menerimanya.






Yogyakarta, 8/11/14

Setelah meyaksikan lini dibalik linimasa.